Sistem Pengendalian Internal

Sistem pengendalian internal bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasional, kelayakan atas laporan keuangan, serta kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia, baik peraturan yang mengatur Perseroan Terbatas, peraturan OJK maupun kebijakan Perseroan yang telah ditetapkan.

Sistem pengendalian internal diwujudkan melalui aktivitasaktivitas sebagai berikut:

  • Formalisasi kebijakan dan prosedur Perseroan oleh Group Corporate Policy Division (GCP) yang dilakukan melalui kajian dan persetujuan sampai dengan tingkat otorisasi yang telah ditetapkan. Kebijakan dan prosedur Perseroan dikelompokkan ke dalam 5 kategori; yaitu penjualan & pemasaran, finansial, operasional, governance, serta general affair (GA).
  • Pembaharuan kebijakan prosedur dalam bentuk perbaikan dan penyempurnaan proses yang sudah ada, baik menyangkut keuangan maupun operasional Perseroan menjadi satu sinergi proses (integrasi).
  • Proses sosialisasi kebijakan dan prosedur melalui intranet dan jaringan Web.
  • Formalisasi kode etik Perseroan (code of conduct) yang mencakup penerapan nilai, etika, integritas karyawan yang dapat diakses oleh seluruh karyawan melalui media intranet (portal) Perseroan.
  • Penggunaan program komputer yang terintegrasi dalam transaksi keuangan dan operasional (penjualan, programming dan SDM).
  • Pemisahan fungsi sesuai tugas, tanggung jawab dan kewenangan dalam struktur organisasi Perseroan dan unit usaha.
  • Adanya supervisi oleh atasan masing-masing pada setiap tugas dan tanggung jawab.


Sistem Manajemen Risiko

Komitmen Manajemen Risiko

Perseroan secara konsisten menerapkan manajemen risiko dalam setiap aktivitas usaha termasuk pada aktivitas operasional dan non-operasional. Penerapan manajemen risiko juga menjadi kepedulian setiap tingkat/level organisasi di Perseroan.

Sistem manajemen risiko Perseroan diterapkan guna mengevaluasi efektivitas lingkungan internal, penetapan tujuan, identifikasi kegiatan, penilaian risiko, pengelolaan risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, pengawasan.


Sistem Manajemen Risiko yang diterapkan Perseroan

Perseroan menerapkan sistem manajemen risiko komprehensif yang terintegrasi dengan proses perencanaan strategis dan kegiatan usaha Perseroan. Manajemen risiko Perseroan dilaksanakan melalui seluruh jajaran dalam manajemen sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing:

  • GCP (Group Corporate Policy), sebagai fungsi pengelolaan risiko yang dituangkan dalam bentuk kebijakan dan prosedur.
  • Internal Control, sebagai fungsi pengendalian internal manajemen risiko.
  • Internal Audit, sebagai fungsi evaluasi dari sistem manajemen risiko, pengendalian internal dan perangkat sistem informasi manajemen terkait.
  • IT Audit, sebagai fungsi memastikan kecukupan kontrol atas sistem yang digunakan oleh Perseroan.
  • CCSA (Compliance and Control Self Assessment), sebagai fungsi evaluasi dari sistem manajemen risiko, pengendalian internal dan perangkat sistem informasi manajemen terkait.
  • MARS (Management Awareness Reporting System), sebagai fungsi manajemen risiko dalam mengidentifikasi, melaporkan dan menyelesaikan permasalahanpermasalahan yang dihadapi oleh Perseroan dan unit usaha.

Sistem Manajemen Risiko yang diterapkan Perseroan

Strategi yang dapat diterapkan dalam pengelolaan risiko adalah dengan cara membagi risiko, menghindari risiko, mengurangi tingkat risiko melalui sistem pengendalian internal, atau menerima risiko yang ada. Risiko-risiko utama yang dihadapi oleh Perseroan pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:


Risiko Eksternal

  • Risiko akibat perubahan terhadap peraturan perundangundangan baik yang dikeluarkan oleh Pemerintah maupun pihak berwenang lainnya.
  • Risiko akibat perubahan orientasi pelanggan/pemirsa.
  • Risiko akibat perkembangan teknologi.
  • Risiko akibat pesaing baru.
  • Risiko akibat keluhan/ketidakpuasan pelanggan.


Risiko Internal

  • Risiko akibat kesalahan proses.
  • Risiko akibat adanya kelemahan dalam manajemen aset.
  • Risiko akibat kesalahan atau penyalahgunaan sistem.
  • Risiko atas kegagalan produksi.
  • Risiko akibat kegagalan atau rendahnya distribusi hasil produksi kepada konsumen.

Mitigasi Risiko yang dilakukan Perseroan

Selama tahun 2016, sistem manajemen risiko telah berjalan secara efektif dengan mitigasi risiko sebagai berikut:


Risiko Eksternal

  • Mematuhi perubahan atau adanya undang-undang dan peraturan Pemerintah yang baru baik di industri media maupun perpajakan.
  • Memantau selera pasar dengan mengevaluasi program-program berdasarkan hasil riset dari The Nielsen Company mengenai rating.
  • Melakukan efisiensi melalui perbaikan proses, serta mendukung implementasi dan proyek transformasi bisnis melalui penurunan risiko dengan memastikan proses governance berjalan dan mengurangi kesalahan/eror data manual.

Risiko Internal

  • Menjaga kualitas dan kesinambungan kegiatan operasional sehari-hari Perseroan dengan melakukan:
    • Pembuatan kebijakan yang terpusat untuk menjaga konsistensi dan keseragaman prosedur di setiap proses bisnis di semua unit usaha Perseroan.
    • Proses pengambilan keputusan berdasarkan matrix approval yang diketahui oleh Manajemen Perseroan.
    • Koordinasi antara setiap unit usaha dalam pengembangan dan pengaturan SDM.
      Proses audit berbasis risiko.
    • Peningkatan pemantauan unit usaha terkait atas kepatuhan dalam kegiatan operasional.
    • Pengembangan sistem manajemen kebijakan dan prosedur melalui intranet dan jaringan Web.
  • Melakukan efisiensi melalui perbaikan proses, serta mendukung implementasi dan proyek transformasi bisnis melalui:
    • Peningkatan proses kerja dan pengendalian proses melalui sistem yang djalankan secara terpusat.
    • Eliminasi pelaksanaan kerja secara manual dan meningkatkan pelaksanaan kerja secara otomatisasi untuk mempercepat proses melalui sistem yang terintegrasi.
    • Mempersiapkan rencana pengembangan yang akurat dan merekomendasikannya pada isu bisnis yang berulang.
    • Meningkatkan efisiensi dan kualitas kerja dengan mendukung integrasi tenaga kerja serupa pada unit yang berbeda.